Wednesday, June 17, 2015

The First Sahoor

       Ramadhan tiba..ramadhan tiba.. yay. Tidak terasa ya, sudah bulan Ramadhan lagi. Yuhuu, aura bulan Ramadhan itu memang berbeda. Kalau di Bulan ramadhan, apa sih yang paling berkesan ? pasti, menu buka puasanya kan. Hehe. Menu berbuka puasa memang istimewa, enak-enak, ada es buah, kolak, dan masih banyak lagi yang jarang ada di bulan-bulan yang lainnya. Setelah berpuasa seharian, menahan lapar dan haus, nah, waktu berbuka puasalah sebagai pelampiasannya alias balas dendam. Tapi, sebaiknya jangan banyak-banyak dulu, nanti kekenyangan dan akibatnya tidak bisa sholat taraweh. Haha.
        Dari tadi mengoceh tentang buka puasa, ada loh moment yang tidak kalah serunya dengan waktu berbuka puasa. Sahur. Sahurr… sahuurrr… tahu sahurkan? Bagi yang belum tahu, sahur itu adalah aktifitas memakan dan meminum di malam hari sekitar jam 1 sampai menjelang imsak. Nah, bagaimana dengan sahur pertama? pasti sangat-sangat mengesankan. Menunya pasti enak-enak, ada daging, sup, dan masih banyak lagi.
        Tidak sedikit orang yang merayakan makan sahur pertamanya bersama keluarga dengan menu yang enak-enak. Selain itu juga, sahur bisa melatih kita untuk bangun lebih awal. Yaa yang suka bangun kesiangan cocok tuh, kalau sahur di jadikan ajang latihan. Tapi, apakah kegiatan sahur di atas berlaku untuk siapa saja, yang tidak bisa merayakan sahur pertamanya bersama keluarga ? tidak! Lah, kenapa tidak?
Karena saya merasakannya sendiri saat ini. Karena masih ada kegiatan kampus, akhirnya tidak bisa pulang kampung. Ya sudahlah. Terpaksa saya hanya merayakan bersama saudara saja. Cukup dengan menu-menu yang sederhana saja dan niat yang tulus, saya rasa sudah cukup.
      Karena saya adalah satu-satunya makhluk jenis perempuan di rumah ini, jadi, sayalah yang harus bangun lebih awal untuk memasak. Strategi sudah di susun. Sebelum tidur, saya menyetel alarm handphone jam 02.20.

“Bangun..bangun..” terdengar suara yang agak berat membangunkan. Spontan saya langsung bangkit tanpa duduk dulu dan ngeloyor keluar kamar.
“Jam berapa?” tanyaku
“Stengah empat”
“Hahh, sial”
tanpa basa-basi saya langsung terjun ke dapur. Syukurlah, malam sebelum sahur, misi pertama sudah terpenuhi. Telur,Ikan kaleng dan susu sudah tersedia di atas meja, tinggal di masak.
“Kenapa gelap?” kataku seraya menggerakkan jari telunjukku ke arah saklar lampu.
“Tidak menyala ?”
“Pulsa listrik habis” ujar lelaki yang lebih muda 3 tahun dariku itu.
Saya tidak bisa menjawab lagi. Semua strategi yang sudah kususun gagal.
       Gara-gara keenakan mimpi jadi begini deh. Bagun hampir imsak, di tambah lagi mati lampu. Tapi syukurlah Lelaki satu yang paling tua di antara kami itu tidurnya tidak separah yang lain.
“Lilin mana lilin” ujarku sambil mengambil lilin yang tidak sampai setengah itu.
Karena lilinya terlalu kecil, tidak sampai menerangi  masakan yang ada di kompor. Tapi, terserahlah, tidak ada waktu lagi. Saya terus menggoreng dalam kegelapan. Tapi, ada yang aneh, kok tiba-tiba terang ya, aku menoleh. Ternyata sesosok laki-laki sedari tadi berdiri de belakangku dan mencoba memberi penerangan dengan senter handphonenya.
Gesit dan cepat saya menggerakkan spatula di atas kuali yang berisi telur.
“Jam berapa?” Tanyaku sekali lagi
“Tenang saja, belum jam 4, masih setengah 4” jawab adikku yang baru saja bergantian menyinariku.
“Berapa menit lagi jam 4?” tanyaku lagi, sembari terus menggoreng.
“6 menit lagi” jawabnya tanpa dosa.
Terdengar suara tawa di ujung sana
“Yah, itu sih sudah jam 4”.
       Selagi memasak, terdengar sayup-sayup suara lelaki yang terus mengoceh di ruang depan. Mungkin Menyesal karena lupa membeli pulsa listrik.
      Ya sudahlah, di sahur pertama kali ini, kami berempat merayakannya dengan makanan yang sederhana, berlomba dengan waktu, dan hanya disinari lilin kecil dan senter handphone.
“Susu, saya mau minum susu” ujarku dalam hati. Aku menoleh ke jam dinding, rasanya badanku lemas tidak ada tenaga. Setengah lima. Baiklah. Tidak apa-apa.
“Kalau sikat gigi nanti pagi, puasa tidak batal kan?” ujar laki-laki yang paling muda di antara kami itu, memecah kesunyian setelah menyantap makan sahur.
“Asalkan kamu tidak makan odolnya” Cetusku lalu kekamar menunggu sholat subuh.
Terdengar Ia mengoceh, mungkin jengkel dengan jawabanku.

Sekian cerita hari ini. Terimakasih sudah berkenan membaca. Selamat Berpuasa :)

-Kamalia Kwa @Maftuh

Read more

Monday, June 15, 2015

Judulnya apa?

   Hari ini hari minggukah? Saya selalu menantikan hari minggu. Ya, pastinya karena libur, jadi bisa istirahat. Tapi, tidak semua hari minggu saya nikmati dengan menyenangkan. Seperti hari ini, minggu yang sangat membosankan dan mengerikan. Mebosankan karena seharian dalam rumah meratapi rencana yang gagal. Dan mengerikan karena pada saat tidur siang, saya mimpi buruk. Hihh. Sebenarnya hari ini saya punya rencana. Belanja. Tapi apadaya teman-temanku sedang tidak punya uang. Biasanya, kalau keadaan seperti ini, belanja sendirianpun tidak apa-apa, tapi sayang, hari ini moodku sedang buruk untuk mondar-mandir mall sendirian.Ya sudahlah. Saya putuskan rencana hari ini di tunda dulu. Sore ini langit terlihat cerah dari biasanya. Dan saya butuh udara segar dan pemandangan segar untuk menenangkan pikiran. Teras rumah. Itulah tempat favorit. Saya merebahkan badan di salah satu kursi. Kursinya tiga, saling bergandengan. Warnanya merah tua dan sudah lusuh. Seperti kursi kapal. Dan memang ini kursi kapal.Kapal laut tepatnya. Sekaligus simbol kalau pemilik rumah ini seorang Kapten. Berbagaimacam kegiatan  yang mereka lakukan sore ini. Dari tetangga di sebelah kiri, terdengar suara beberapa orang bernyanyi. Sangat keras suaranya. Menurut pendengaranku ada beberapa laki-laki disana, tetapi, suara perempuan lebih dominan. Terserahlah. Kali ini saya tidak memperdulikan nyanyian tetangga, tetapi mataku lebih ingin tertuju pada sosok yang ada di seberang jalan sana. Tepat  di hadapanku. Sosok itu sangat tidak asing. Mungkin 2 hari setelah Kakaku pindah kerumah ini, hari itulah pertamakali saya melihatnya, saya cukup kaget. Apakah saya tidak salah lihat? Itulah ungkapan dalam benakku.
Dan hari ini lagi-lagi saya memperhatikannya dengan lebih teliti. Memang, sangat mirip. Ahok. Taukan Ahok? itu loh Gubernur Jakarta. Lelaki itu mirip Ahok, sangat mirip. Saya merasa lucu, tapi dalam hati. Takut orangnya tersinggung. Hehe. Nampaknya usianya masih muda, mungkin SMA. Saya cukup senang. Orang yang hanya bisa kulihat di layar TV, kini sudah kulihat langsung. Saya tidak menyangka kalau Kakak saya bertetangga dengan Ahok. Hihi
     Hahh suasana di teras menjadi lebih ramai, ketika bangunya kedua bersaudara yang hanya terpaut satu tahun ini. Ya sudah, kami membuat kegiatan baru dengan memetik daun paci milik tetangga, untuk menghias kuku. Ssttt ... tolong jangan bilang tetangga ya. hehe
Sekianlah cerita hari ini. Terimakasih sudah berkenan membaca (Postingnya telat) hihi
-Kama Lia
Read more